Musibah yang terjadi
jelas menimbulkan beban psikologi bagi kehidupan masyarakat. Akibatnya
masyarakat menjadi serba salah, hati menjadi resah gelisah, jiwa terasa hampa
dan merana, semangat hidup mulai surut. Saat seperti itu tak pernah merasakan
tenang hati dalam menghadapinya.Wajar memang. Dalam kondisi seperti itu hati tidak bisa tenang, jiwa terasa hampa. Sebab sudah menjadi sunnatullah bolak-baliknya hati manusia. Namun harus disadari, salah satu kunci keberhasilan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan adalah ketenangan hati dalam menyelesaikannya.
Lantas bagaimana meraih kembali ketenangan hati. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Ra'du ayat 28, "(yaitu) mereka yang beriman dan hatinya tenang mengingat Allah. Ketahuilah! Hanya dengan ingat akan Allah, maka hati merasa tenang."
Yakinilah Allah yang Mahakuasa atas segalanya. Dia yang menurunkan bencana. Dia yang memberikan berbagai permasalahan sebagai ujian bagi setiap insan. Dia yang membolak-balikan hati manusia. Dia pula yang memberikan ketenangan ke dalam hati manusia.
Mustafa Amin dan Ali Al-Jarimi dalam Al-Balaghah Wadihah menyatakan maksud ayat di atas merupakan informasi bahwa dengan mengingat Allah, hati akan tenang dan jiwa akan tentram. Begitu juga Imam Ali Asshabuni dalam Safwatut Tafaasir mengungkapkan ayat di atas mengandung isyarat di antara terapi potensial untuk mencapai ketenangan dan ketentraman hati yang hakiki serta mendapat pahala apabila kita lakukan.
Langkah tersebut adalah dzikir, baik dzikir lisan maupun dzikir qalbu. Sebab, kebiasaan untuk selalu mengingat Allah, akan mejadi jalan bagi datangnya pertolongan berupa ketenangan hati. Namun, tetap ikhtiar harus kita lakukan dalam mencari akar permasalahan yang membuat hati gelisah dan tidak tenang.
Dalam rangka mencapai ketenangan hati, kita sepatutnya mengikuti mekanisme dzikir yang berpijak pada Al-Qur'an. FirmanNya dalam surat Al-A'raf ayat 205, "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu, dengan rendah hati dan takut, dan tanpa mengeraskan suara pagi dan petang. Janganlah masuk golongan orang yang lalai."
Berdasarkan ayat tersebut, Sulaiman Al-Asqari dalam Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir menyatakan bahwa Allah menjelaskan empat cara dalam berdzikir agar kita menggapai ketenangan hati. Pertama, hendaklah kita berdzikir dengan cara sir atau tersembunyi, menghadirkanNya dalam hati untuk mengagungkan Allah. Ini artinya dalam berdzikir tidak mengharapkan sanjungan atau pujian siapa pun. Kedua, hendaklah dalam berdzikir kita bersikap rendah hati, tawadhu, bersimpuh di hadapanNya, merasa takut dan tidak bersikap sombong atau angkuh kepadaNya. Ketiga, waktu yang tepat untuk berdzikir adalah senja pagi sampai petang, dari petang sampai pagi. Dengan kata lain, dzikir tidak terbatas oleh waktu dan situasi, kapan pun dan di mana pun keagunganNya harus selalu kita ingat. Keempat, hendaklah ketika berdzikir tidak dengan suara lantang seperti suara orang yang marah dan tidak merengek seperti orang menangis, akan tetapi pertengahan antara keduanya.
Tampak jelas bahwa dzikir yang dilakukan dengan terus menerus secara khusyu dan khidmat akan membawa pada ketengan hati. Kita sentiasa akan dekat denganNya. Maka berkembanglah kecintaan kepadaNya hingga mantaplah hubungan denganNya.
Selain itu, Hujatul Islam Al-Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa proses ini merupakan muraqabah, yakni kita selalu merasa diawasi oleh Allah. Insya Allah jika sudah bisa mencapai hal ini, maka kita tidak mungkin untuk melanggar laranganNya.
Tidak hanya ketengan hati yang akan kita dapatkan dari berdzikir. Lebih dari itu, Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar bagi mereka yang senantiasa selalu mengingatNya. Hal ini terangkai dalam penggalan akhir surat Al-Ahzab ayat 35, "Bagi laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah. Bagi mereka itu Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar."
Sebagai penutup, kita simpulkan bahwa dzikir merupakan solusi terbaik untuk menghilangkan kegelisahan dan kecemasan, serta merupakan metode paling efektif menggapai ketenangan hati yang hakiki. Sebab itu, hendaklah kita selalu berdzikir dengan penuh khidmat dalam semua waktu kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar